Togel Online Agen Bola Domino Online, Dominobet, Agen Poker, Agen Domino Terpercaya Agen Bola Agen Poker Domino99 Capsa AduQ BandarQ Online Agen Togel Online Asli4D Agen Poker BandarKiu Online ituQQ Agen Judi BandarQ BandarPoker Domino Online Indonesia Agen Judi Online Casino & SportsBook Agen Poker Domino QQ Online Agen Poker Domino QQ Online Judi Poker Domino 99 Online Judi Poker Domino 99 Online Agen Togel Nasional Online Judi Casino dan Togel Online Indonesia Poker Online
Texas Poker Uang Asli Golbet88 - Agen Bandar Betting Bola Online

Kegembiraan yang Getir di Senayan

Poker Online Poker Online

Seorang fans Chelsea saat diwawancara sebuah stasiun televisi dengan antusias mengatakan, Chelsea akan menang atas Indonesia All Stars. “Jika Arsenal bisa mengalahkan Indonesia 7-0, Chelsea harus lebih baik. Setidaknya skornya 8-0,” katanya jelang laga Indonesia All Stars lawan Chelsea di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Kamis (25/7/2013).

sepak bola
Publik sepak bola Indonesia sangat antusias mendukung Chelsea saat bertanding melawan Indonesia All Star di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta

Prediksi fans itu nyaris benar karena Indonesia akhirnya kalah 1-8 dari Chelsea. Satu-satunya gol pun karena pemberian sebagai aksi bunuh diri.

Seorang suporter lain ketika ditanya mengatakan, “Ini bukan masalah nasionalisme. Ini persoalan sepak bola dan kualitas.”

Dalam bulan Juni dan Juli, Indonesia memang dilanda euforia sepak bola mancanegara. Pada Juni, Indonesia berkesempatan melawan juara Piala Eropa 1988, Belanda. Lalu, pada bulan Juli, tiga klub Premier League pamer diri. Semuanya digelar di SUGBK, Senayan. Mereka adalah Arsenal, Liverpool, dan terakhir Chelsea. Semua berakhir dengan kekalahan buat tuan rumah. Dihajar Arsenal 0-7, dikalahkan Liverpool 0-3, dan dibekap Chelsea 1-8.

Animo publik memang luar biasa. Stadion sampai dipenuhi rata-rata 80.000 penonton. Sebuah jumlah yang melebihi jumlah penonton di setiap pertandingan Premier League di Inggris.

Namun, bisa dilihat, tribun stadion didominasi pendukung tim tamu, lengkap dengan seragam dan atribut tim tamu. Mereka juga antusias menyanyikan lagu-lagu kebesaran klub kecintaannya yang notabene sebagai tamu.

Setiap gol yang masuk ke gawang Indonesia itu disambut sorak kegembiraan luar biasa oleh publik sepak bola Indonesia di Senayan. Tak ada tangis atau rasa terpukul. Sebaliknya, riuh kegembiraan ditingkahi gema nyanyian sakral tim tamu.

Kita tak bisa menyalahkan para suporter itu. Soal sepak bola, mereka berhak memilih klub atau tim yang pantas dicintai berdasarkan gerak hati, pengalaman, dan kepentingan.

Justru, yang perlu dipertanyakan adalah sepak bola Indonesia itu sendiri. Kenapa mereka sampai tak bisa menjadi tuan di negeri sendiri ketika menjamu klub-klub luar?

Kegembiraan luar biasa di Senayan yang lebih banyak mendukung tim tamu memang kadang terasa getir. Namun, itu tak bisa diartikan bahwa nasionalisme telah turun. Toh, publik sepak bola telah membuktikan nasionalisme solidnya. Itu terjadi ketika Indonesia benar-benar bertemu “lawan”. Lihat saja di Piala AFF atau penyisihan Piala Dunia sekali pun. Publik sepak bola selalu akan mendukung tim nasional sepenuh hati, meski akhirnya kalah sekalipun, apalagi kalau bertemu lawan yang bernama Malaysia.

Tapi, ketika melawan Belanda dan tiga klub Premier League, hal tersebut sepertinya dinilai oleh publik bola bukan pertemuan bangsa tercinta ini dalam pertarungan dengan “lawan”. Ini persoalan kepuasan dan orgasme sepak bola, di tengah kondisi bahwa sepak bola kita telah gagal memberi kepuasan itu sekian tahun lamanya.

Publik sepak bola juga berhak mendapatkan kepuasan sepak bola. Ketika mereka selama ini mencari kepuasan sepak bola kepada tim luar negeri, itu karena sepak bola dalam negeri gagal memberi kepuasan yang mereka harapkan. Selain kepuasan kualitas, juga kepuasan kemenangan.

Ini mungkin juga wujud globalisme yang sudah sekian lama menerjang Indonesia. Tim-tim dari daerah yang jaraknya ribuan kilometer itu tiba-tiba terasa begitu dekat. Bahkan, secara psikologis begitu dekatnya. Publik sepak bola Indonesia pun dalam konteks ini juga bersikap sebagai konsumen. Sudah menjadi hukum alam, konsumen akan memburu kualitas jika memang terjangkau. Terlebih lagi, klub-klub yang datang itu memiliki prominensia tinggi dan sangat langka datang ke Indonesia. Oleh karenanya, kesempatan berharga itu harus dimanfaatkan.

Memang, terkesan getir. Namun, kegetiran ini seharusnya menjadi kritik tajam buat sepak bola Indonesia, terutama para pemangku organisasi yang memiliki otoritas di sepak bola dalam hal ini PSSI. Kegetiran di Senayan dalam dua bulan ini seharusnya menjadi tantangan dan menggugah usaha untuk membangun sepak bola dengan lebih profesional, modern, dan menuju arah yang tepat.

Jika sepak bola tak jua maju dalam sekian lama, tentu ada masalahnya. Maka dari itu, teorinya, masalah-masalah itu harus segera diinventarisasi. Lalu, kewajiban selanjutnya adalah mengatasi masalah itu, kemudian gerak sepak bola (pembinaan dan kompetisi) diarahkan ke kiblat yang tepat, yakni kualitas yang profesional, menghibur, dan mendunia. Tentu, dengan masterplan yang mumpuni, hasil dari riset serius dan pemanfaatan ilmu serta teknologi. Wajib pula dikerahkan energi kejujuran dan semangat perjuangan.

Pertanyaan selanjutnya, sudahkah PSSI menginventarisasi persoalan sepak bola dari berbagai sisi? Kalau sudah, apa saja masalahnya dan apa konsep (grand design) untuk mengatasi masalah-masalah itu? Lalu, seberapa tulus, jujur, dan semangat usaha untuk membangun sepak bola dengan baik?

Dulu ada konsep bernama Galatama. Kompetisi semiprofesional ini dianggap bagus dan bahkan ditiru beberapa negara Asia, termasuk Jepang. Lalu, ada konsep lanjutan untuk melebur Galatama dan Perserikatan agar kompetisi benar-benar profesional dan terfokus. Setelah itu, kompetisi terkesan tak memiliki konsep yang jelas karena setiap musim bisa diubah seenaknya sendiri.

Satu kali kompetisi bisa dibagi dua wilayah. Lalu, kali lain, menjadi satu kompetisi. Kemudian, muncul perpecahan dua kompetisi dan PSSI tiba-tiba menjadi seperti panggung politik tempat pertarungan antar-kelompok berbeda. Hasilnya, terasa tak ada kesinambungan kompetisi dan arah yang ingin dituju. Karena konflik kepentingan pula, PSSI kehilangan citra sebagai organisasi jagoan dan mumpuni dalam mengurus sepak bola akibat lebih sibuk berkonflik diri.

Praktik sepak bola pun banyak diwarnai teriakan wasit tak becus, bentrok antarsuporter, suap dan tuduhan pengaturan pertandingan, dan banyak hal menggelikan lain yang akhirnya mengorbankan sepak bola itu sendiri. Cerita tim nasional mengalami kekalahan, bahkan sampai 0-10 pun, menjadi hal biasa.

Lalu, akankah kegetiran-kegetiran itu akan terus menjadi kisah sepak bola Indonesia?

Share this post:

Recent Posts